Ketika hati ingin mendengar rasa namun pikiran masih dikurung jelas logika, memutuskan terlelap dalam mimpi menikmati indah tipuan ilusi lalu melayang oleh rayuan fana tidaklah bijaksana. Tapi garis tipis pemisah ada dan tiada tidak terlihat, apakah salah untuk merasa bahagia dalam hitungan kedip mata?
Sesaat dalam sementara biarkan fiksi ini dirangkai membuat gaduh isi kepala, menyita sadar, menyandera iba, lalu membuat kecewa beberapa. Sesekali tak usah pedulikan ketuk nyata, dosa? Karena bunyi fantasi menyatukan dalam serasi dan beda antara palsu pun asli akan menjadi rumit lainnya lagi, terpisah, tersendiri.
No comments:
Post a Comment